Kesederhanaan dan Contoh

Seorang tokoh besar negeri ini bercerita, pernah beberapa tokoh politik kesohor tingkat nasional era 50-an, yang berasal dari berbagai golongan berkumpul demi membahas sebuah soal. Beberapa di antara yang datang tersebutlah dedengkot NU kala itu, K.H. Wahid Hasyim, serta I.J. Kasimo, pentolan Partai Katolik. Dapatlah kiranya kita raba betapa penting duduk persoalannya jika mereka sudah kumpul bersama begini. Memang perkara yang dibahas bukanlah urusan politik semacam koalisi, bagi-bagi kekuasaan, atau barangkali sekadar berdamai dan berkelakar setelah habis berdebat di ruang-ruang resmi, melainkan soal pembangunan sebuah rumah.


Tentu rumah bukan sekadar rumah yang jadi bahan obrolan, sebab kalau cuma hendak membangun rumah biasa, atau proyek semacam rumah rakyat, tentulah urusan begini bisa diserahkan pada pejabat terkait atau mengundang para kontraktor sambil minta didanai program KPR BTN, misalnya. Lagi pula apa urusannya orang-orang macam Wahid Hasyim dan I.J. Kasimo yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan pondasi, kusen dan gagang pintu, merasa perlu ikut urun rembuk. Mereka berkumpul dengan sukarela lantaran prihatin dengan kondisi Mohamad Natsir yang dianggap belum memiliki hunian yang layak.

Pembaca tentulah kenal dengan Mohammad Natsir, pendekar politik pilih tanding Masyumi yang juga terkenal sebagai tokoh pemikir Islam. Di kancah politik bukan alang-kepalang sepak terjangnya hingga sempat jadi Perdana Menteri kala republik ini masih berbentuk serikat. Ibarat pemain bola, Natsir ini barangkali seperti Maradona, yang bukan cuma piawai, tapi membuat pemain hebat sesudahnya kerap dibanding-bandingkan sebagai the next Maradona. Nurcholis Madjid dan Yusril Ihza Mahendra merupakan nama-nama yang pernah dikasih titel sebagai “Natsir muda”.

Zaman sekarang, pejabat sekelas Natsir tentulah mudah mendapat previlege, apalagi cuma sebuah rumah layak. Amin Rais saja yang mantan ketua MPR, yang dulu tiada capek mengritik Freeport, bisa duduk enak di kursi empuk jajaran komisaris Freeport yang tak ada sangkut-pautnya dengan dunia politik. Tentulah gaji Amin Rais lantaran setia duduk di kursi tersebut bisa dipakai buat membangun sebuah rumah mewah, atau jangan-jangan malah membangun satu komplek perumahan.

Namun memang kenyataannya hidup Natsir tak seenak itu. Bahkan ada dikabarkan semasa menjadi pejabat ia masih saja jadi penghuni kontrakkan, tiada banyak beda dengan mahasiswa, itu pun kelas mahasiswa yang belum tau cara menghasilkan uang dari berbagai proposal yang bermacam-macam dan ajaib kegiatannya itu. Sepanjang hidupnya Natsir memang dikenal sebagai tokoh yang mencontohkan hidup dalam kesederhanaan.

Kisah tentang “pembangunan rumah Natsir” di atas diceritakan oleh almarhum Gus Dur, anak dari K.H. Wahid Hasyim. Tokoh ini pun ada banyak punya kisah hidup yang mengesan. Rasanya tiada habis orang bakal bercerita tentang Gus Dur. Presiden RI ke 4 ini juga punya sisi kehidupan yang sama dengan Natsir; kesederhanaan.

Orang lebih banyak kenal Gus Dur sebagai ulama cum politikus ulung dan humoris. Tapi tak banyak orang tahu bahwa kehidupan cucu K.H. Hasyim Asyari ini pun tergolong sederhana. Orang-orang yang kerap mendampingi beliau sering bercerita, betapa Gus Dur enggan dirawat dengan fasilitas kelas wahid di rumah sakit. Ia selalu memilih ruang yang biasa saja, tanpa perlu merasa sebagai seorang mantan  presiden yang mesti dikasih pelayanan istimewa.

Diceritakan Greg Barton, peneliti, penulis biografi Gus Dur, sekaligus kawan baiknya, Gus Dur membangun rumah dan masjidnya di Ciganjur dengan bantuan dana dari mendiang Soeharto, Presiden ke 2 RI, sekaligus lawan politiknya. Ya, konon Gus Dur memang kerap mendapat sejumlah uang dari berbagai pihak, baik secara profesional, karena jasanya, atau sekadar niat baik seseorang. Tapi sekerap itu juga ia memberikan uang buat orang lain yang dirasanya lebih butuh.

Dulu semasa hidupnya ia sering menghabiskan waktu di rumahnya demi menghadapi antrean orang yang mengular tiap hari. Orang-orang ini datang dengan berbagai tujuan; minta doa, minta nama untuk anak, wawancara, minta nasihat, penelitian, konsultasi, sekadar salaman, ngobrol, tak ketinggalan juga yang minta duit. Dalam prosesi ini Gus Dur biasanya duduk dengan kantong plastik berisi uang di sampingnya. Kepada yang meminta uang ia akan berikan berapa saja yang tergenggam sekenanya, begitu sampai habis.

Kebiasaan begini tak berarti menggambarkan Gus Dur hidup mewah. Bahkan dikabarkan beberapa hari menjelang wafatnya ia sempat meminta uang kepada salah seorang anaknya demi membayar biaya rumah sakit. Orang-orang dekatnya kerap menggambarkan Gus Dur sebagai orang yang tak peduli berapa uang yang diterima, juga berapa uang yang diberikannya pada orang.

Di samping dua tokoh ini, kita juga punya contoh pribadi besar yang mempraktikkan hidup sederhana. Dialah Mohammad Hatta yang konon gajinya selaku wakil presiden tak pernah betul-betul cukup buat menambal lubang-lubang kebutuhan dalam hidupnya.

“Sederhana” tentu bukan kata yang asing buat bangsa ini. Saya ingat bahkan dua orang presiden secara resmi mengimbau rakyatnya hidup sederhana; Soeharto dan SBY. Sayangnya sesering itu kita mendengar kata “sederhana”, sesering itu juga kita frustrasi lantaran kesulitan mencari contoh tokoh-tokoh bangsa yang mempraktikannya.

Jauh sebelum era reformasi dimulai, sudah menjadi pengetahuan umum ala kadarnya bahwa Soeharto kerap menyalahgunakan jabatannya demi menebalkan kocek kolega dan keluarganya. Sementara SBY, yang menginstruksikan rakyatnya supaya hidup sederhana, mematikan televisi lebih awal biar tak banyak energi listrik terpakai, malah membagi-bagikan mobil dinas mewah kepada jajaran kabinetnya. Belum lagi anggaran pribadi presiden terkait furnitur dan pakaian yang dikabarkan masya Allah besarnya.

Sebetulnya rakyat kita bukan tak bisa hidup sederhana. Sejak negara ini berdiri bahkan sebagian besar masyarakatnya menjalankan pola hidup sederhana yang berlebih-lebihan, alias melarat. Tengok saja ketika diumumkan penurunan jumlah orang miskin di Indonesia, kriteria yang dipakai buat mengukur kemiskinan masih menggunakan patokan yang berlaku di awal Orde Baru. Bisa dibayangkan kalau saja para saudara kita di Badan Pusat Statistik (BPS) yang pekerjaannya tukang taksir angka itu mau membarui patokannya, barangkali bakal terbit lusinan buku puisi yang meratap-ratap terinspirasi hasil ukur BPS itu.

Nah, jika begitu persoalannya, sebetulnya ada di tangan para pejabat pemerintah. Tentu setiap orang mesti maklum jika gaji para pejabat lebih menjulang ketimbang pendapatan orang kebanyakan. Bagaimana tidak, mereka itu orang-orang pilihan yang dipekerjakan demi melayani kita dan mencari solusi buat persoalan-persoalan hidup kita yang seabrek. Bisa dibayangkan puyengnya mereka setiap hari. Kalau tak diganjar dengan gaji tinggi bisa berabe.

Namun sederhana itu soal pola hidup, bukan ukuran kebolehan ekonomi. Jadi bisa saja seorang yang kebingungan lantaran rumahnya kesulitan menampung harta kekayaannya tapi dalam kehidupan sehari-hari merasa tak ada gunanya bermegah-megah. Tapi memang orang-orang model begini, apalagi di kalangan pejabat kita susah minta ampun buat dicari.

Lalu jika sebagian rakyat kita sudah demikian melarat sepanjang umur, dan masih juga mendengar imbauan pejabat soal pentingnya pola hidup sederhana, mereka tentu bingung; mau sederhana bagaimana lagi? Siapa tokoh yang mesti kami jadikan contoh? Coba tolong saudara jawab itu.

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

3 komentar:

  1. Saya termasuk di dalam barisan yang "sederhana" itu. Semoga!

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah saya juga. Paling tidak karena dipaksa keadaan :)

    BalasHapus
  3. infonya gak valid bos... tapi lumayan meyakinkan untuk orang yang mudah dibodohi

    BalasHapus