Para Perusak Harga

Memang tidak pernah ada batasan jelas berapa pemain sepakbola mesti dihargai jika ada klub lain berniat membelinya, namun selama ini terjadi semacam kesepakatan tak tertulis sekaligus landasan etika bagi tiap klub untuk menawar atau menghargai pemain berdasar kualitasnya di atas lapangan. Meski ada perbedaan di antara tiap kasus transfer, tapi selalu ada ancar-ancar harga untuk tiap tingkat kualitas. Kalaupun meleset, nilainya tak jauh-jauh amat. Bila ada persaingan, paling-paling hal itu sebatas pada besaran gaji serta fasilitas yang ditawarkan klub-klub peminat. Hal ini berjalan terus dan berevolusi seiring berjalannya waktu. Namun belakangan, oleh sebab-sebab tertentu, kesepakatan tersebut terusik hingga kian kabur batasannya. Bagaimana hal ini terjadi? Begini ceritanya:


Pada suatu hari seorang miliarder yang juragan minyak asal Rusia datang pada Pini Zahavi, seorang agen pemain nan tersohor. Roman Abramovich, nama miliarder tersebut, minta nasihat memilih klub untuk dibeli. Demi menghindari salah paham, sebelumnya mesti saya katakan bahwa nasihat Zahavi ini tentulah sifatnya profesional, alias ada tarifnya.

Awalnya Abramovich kesengsem Manchester United, lantaran klub inilah yang merevolusi industri sepakbola jadi begitu menguntungkan. Namun Zahavi bilang, “United tidak dijual!”. Sebagai gantinya ia menunjuk Chelsea, tim kuda hitam yang tengah membangun kekuatan. Maka pada tahun 2003 Abramovich mengakuisisi Chelsea, membayar utang-utangnya tanpa menunggu jatuh tempo, menyilakan Claudio Ranieri –pelatih Chelsea kala itu- mengincar pemain sekehendaknya. Soal dana? Selama minyak masih menyembur, duit terus datang tanpa spasi.

Maka jadilah Chelsea tiada beda dengan orang kaya baru yang terkaget-kaget. Hampir semua pemain kelas dunia kala itu ditanya berapa harganya. Pasar transfer geger; klub besar ketar-ketir disaingi, bahkan ditawar pemainnya, klub menengah dan kecil bersiap memasang bandrol tinggi manakala pemainnya kena lirik. Ya, klub berkostum biru ini memang berkoar-koar siap menawar pemain bagus dengan harga tinggi.

Maka berduyun-duyun datanglah Glenn Johnson, Wayne Bridge, Geremi Njitap, Claude Makelele, Juan Sebastian Veron, Joe Cole, Damien Duff, Adrian Mutu, Hernan Crespo dan seterusnya, ke markas Chelsea. Hampir semuanya berharga di atas pasaran, semua bergaji tinggi. Orang memang boleh bilang uang tak bisa beli titel juara, betul. Tapi syarat jadi juara, punya pemain-pemain bagus, bisa dibeli.

Musim berikutnya, meski berganti nahkoda dari Ranieri ke Jose Mourinho, Abramovich tetap ia yang sama. Arjen Robben yang hendak menyambut tawaran pawang Manchester United, Sir Alex Ferguson, dibajak di bandara. Tiga alumnus peraih juara Eropa asal Porto dipindahtugaskan, dan terus diikuti pemain lain. Sihir gepokan uang Abrahamovih terbukti masih manjur. Gelar juara pun datang.

Tradisi mendatangkan pemain-pemain berkelas dengan harga tinggi ini terus dipraktikkan. Salah satu preseden paling ramai adalah ketika Chelsea mengadang langkah Arsenal menggaet Shaun Wright Phillips dengan menawar dua kali lipat lebih besar, 24 juta pound. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Ya, Arsene Wenger boleh marah-marah di berbagai media, tapi kostum Phillips tetap berganti biru. Tradisi Chelsea yang begini lama-lama dinikmati juga oleh klub-klub menengah dan kecil. Hampir tiap pemain yang diincar saingannya, Chelsea ikut partisipasi dengan harga lebih tinggi. Lama-kelamaan harga pasaran pemain sepakbola kian awut-awutan dan tak karuan. 

Sayangnya ini bukan akhir cerita. Tahun 2008 Sheikh Mansour membeli saham Manchester City. Dengan perilaku yang sama, orang ini jauh lebih kaya ketimbang Abramovich. Jadi bisa saudara bayangkan apa jadinya manakala bursa transfer dibuka. Gebrakan awal dimulai dengan menebok rekor transfer Inggris dengan menggeret Robinho dari Real Madrid seharga 32,5 juta pound, persis di injury time masa transfer.

Sejak itu bergantilah City yang menjadi tempat pemain antre untuk masuk. Santa Cruz, Craig Bellamy, Carlos Tevez, Emannuele Adebayor, Patrick Vieira, Gareth Barry, Yaya Toure, David Silva, James Milner, Mario Balloteli dan seterusnya. Tidak usah ditebak mahalnya harga transfer dan gaji mereka. Sebagai indikator, amati saja enggannya klub lain membeli atau meminjam pemain-pemain yang tak terpakai di City lantaran tingginya gaji mereka.

Memang sebelum kedua klub ini melancarkan jurus kapitalnya, beberapa klub sudah memulai tradisi berani membayar mahal demi talenta besar. Contoh paling konkret adalah Real Madrid. Tengok saja daftar 10 besar transfer paling mahal sepanjang sejarah, pemain mereka mendominasi di sana. Mereka berani membayar mahal demi pemain dengan kualitas benar-benar canggih.

Memang benar sejak era galactico, banyak pemain mahal yang dibeli Madrid namun melempem ketika bermain di sana. Namun jarang ada yang mendebat cara Madrid menghargai pemain. Paling tidak sebelum dibeli klub ibu kota Spanyol ini, para pemain itu menunjukkan diri memang pantas dihargai mahal. Kalau kelewat mahal, ya tak lewat jauh belaka.

Seperti disebut di atas, secara tradisional klub-klub bersaing berebut pemain yang sama masih dengan kisaran harga yang pantas. Fair play. Jika ada yang berbeda biasanya itu dalam hal gaji atau fasilitas lainnya yang ditawarkan masing-masing penawar. Konstalasi ini kemudian banyak berubah sejak Abramovich dan Mansour menaikkan status Chelsea dan City jadi “pemborong besar”. Kehadiran kedua orang ini, ternyata sudah cukup merusak pasar dengan merombak standar harga transfer dan besaran gaji pemain sepakbola saat ini. Belum lagi sedakade dua orang ini berdiri di tengah pusaran salah satu kekuatan utama sepakbola, tapi pengaruh mereka sangat berbekas.

Betapa tradisi memang demikian rapuh menghadapi godaan duit.

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

Tidak ada komentar:

Posting Komentar