Apakah Chelsea dan Manchester City Sudah Belajar?

Kalau melihat tradisi di musim yang sudah-sudah,  Chelsea dan Manchester City kerap jadi fenomena di kontes jual-beli pemain saban periode transfer. Paling tidak sejak “kenaikan status ekonomi” mereka, klub-klub besar tradisional tak lagi bisa sekadar mengandalkan reputasinya yang menjulang buat membidik pemain. Manuver mereka yang bertumpu pada kekuatan modal bahkan bisa membuat lutut para juru transfer klub sekelas Real Madrid gemetaran melawan sihir kibasan bergepok duit. Dan pada periode pra musim seperti sekarang inilah biasanya klub-klub ini menyenangkan para wartawan dan bos media, lantaran sering membuat kisah transfer sensasional yang cocok dipajang besar-besar di medianya.


Namun tahun ini kelihatannya mereka mempraktikkan strategi berbeda. Hingga kini kedua klub seperti menahan diri manakala klub-klub lain justru hampir menyelesaikan urusan transfernya masing-masing. Meski kadang perilaku kedua klub ini kerap menyebalkan lantaran suka mengacak-acak harga pasaran pemain, tapi tanpa gembar-gembor mereka bursa transfer terkesan lebih sepi. Ini tentu kejutan buat para pengamat dan praktisi sepakbola. Apa yang terjadi dengan mereka?

Chelsea hingga kini baru mendapat Thibaut Courtois, kiper 19 tahun asal Belgia, yang kabarnya malah akan dipinjamkan dulu barang semusim. Mereka dikaitkan dengan nama besar seperti Luka Modric, Joao Moutinho serta Radamel Falcao, tapi hingga kini cuma pengejaran Modric saja yang serius. Mereka sudah tiga kali menawar dengan nominal yang terus naik. Sementara berita Moutinho dan Falcao sekadar diembus-embuskan media saja, tanpa pernyataan resmi dari yang bersangkutan.

Bagaimana dengan City? Mereka bahkan belum mendapat seorang pun. Memang klub berwarna kostum telur bebek ini ada digosipkan berupaya pedekate dengan Alexis Sanchez, sayap Udinese yang kalau di lapangan kedua kakinya centil minta ampun itu, tapi kelihatannya sang pemain lebih kesengsem dengan yang punya Catalan, Barcelona. Mereka dikabarkan juga mengincar menantu Maradona, Sergio Aguero alias Kun, tapi gosip ini masih di taraf pernyataan media. Yang ada mereka malah terancam kehilangan Carlos Tevez, aset terpentingnya yang kebelet mudik lantaran kangen keluarga. Ribetnya, Corinthians mau mengeluarkan dana gede-gedean buat meyakinkan Tevez pulang ke Amerika Latin sana.

Biasanya klub besar yang telat aktif di bursa transfer dikarenakan ada masalah internal yang membuat urusan eksternal jadi terabai. Tapi kita lihat dua klub ini tampak adem-ayem belaka. Adakah musim ini mereka memang telah mengubah strategi transfernya? Adakah pengalaman mereka di musim-musim sebelumnya membuat mereka berpikir lain?

Kalau ditengok sejarah transfer Chelsea, mulai dari Juan Veron, Hernan Crespo, Adrian Mutu, Mateja Kezman dan Shaun Wright Phillips, rombongan ini ditebus dengan harga yang masya Allah mahalnya, juga dengan gaji yang kalau angkanya dihayati orang-orang melarat di Indonesia bisa bikin sinting. Namun apa mau dikata, nasib mereka justru lebih banyak mengisi absen di bangku cadangan.

Bagaimana dengan City? Lima belas ribu tiga goceng, alias sama saja. Mereka rekrut pemain-pemain macam Craig Bellamy, Roque Santa Cruz, Mario Ballotelli dan Jo, menghambur duit kesana-kemari tanpa banyak peduli, membekali mereka dengan uang jajan mingguan yang jumlahnya bikin kita berpikir macam-macam. Hasilnya malah salah kaprah. Sudah jarang terpakai, sebagian besar malah jarang nongol di bangku cadangan. Dijual susah, dipinjamkan pun klub lain keberatan membayar gajinya yang bikin deg-degan, apalagi di musim paceklik ekonomi begini. Mungkin kalau sekadar mengongkosi buat transport saja sih mereka ada kesiapan.

Memang kerap terjadi pihak-pihak yang begitu tahu ada orang kaya kesengsem dengan miliknya, dia iseng menaikkan harga bukan kepalang mahalnya. Siapa sih yang tak mau keserempet untung besar? Tanya saja Udinese yang jago bisnis macam begini. Keisengan beginilah kira-kira yang sering dialami Chelsea dan City. Dulu ketika City masih melarat, Chelsea datang menanyakan harga Wright Phillips. Lantaran melihat koper Chelsea yang berat, City tak tanggung-tanggung menyebut harga. Jadilah 24 juta pound yang membikin kedua pihak bersalaman, tak peduli si profesor Arsenal, Arsene Wenger, yang menawar pertama seharga 12 juta pound, mencak-mencak. Ada juga kasus di mana seorang pemain baru digosipkan dipantau antara dua klub, atau Chelsea, atau City, harganya sudah melambung tak karuan.

Pengalaman model begini, karena demikian sering terjadi kelihatannya mau-tak mau membuat pemilik kedua klub belajar. Mereka yang awalnya bangga dengan status “punya pohon duit”, cengar-cengir jumawa jadi bagian sirkus media, kini mesti lebih telaten menghitung langkah. Biaya investasi pemain saja sudah sedemikian mahal, apalagi mereka masih harus berpikir soal pemeliharaan dan perbaikan stadion serta fasilitas lainnya. Memang mereka sama sekali tak jatuh miskin meskipun kondisi ekonomi dunia lagi batuk-batuk akibat kurang enak badan, tapi kisah PHK mendadak yang dialami 11 orang pencari bakat Chelsea dua tahun lalu kira-kira bisa jadi gambaran apa yang dipikirkan orang-orang kaya saat ini.

Barangkali mereka kini lebih tertarik strategi yang kerap dipraktikkan Manchester United (MU). Intip diam-diam, tawar diam-diam. Hasilnya dapatlah yang murah-meriah seperti Javier Hernandez yang dibeli cuma 7 juta pound, tapi di akhir musim bikin pawang Real Madrid, Jose Mourinho, koar-koar siap menawar 40 juta pound kalau MU siap lepas.

Melihat kondisi kedua tim di musim lalu, Chelsea dan City mutlak sama-sama butuh tambahan pemain. Rata-rata pemain Chelsea sudah berumur, ditambah krisis lini belakang yang kerap terjadi di musim lalu, plus kepergian Alex. Daftar masih bertambah melihat kian anjloknya penampilan Lampard dan cedera panjang Essien. Di kubu City, lini belakang mereka pun kerap bermasalah meski stok cukup. Selain itu mereka butuh pemain sayap yang konsisten. Belum lagi lini depan yang cuma mengandalkan Tevez. Edin Dzeko yang datang pertengahan musim lalu masih sulit tunjukkan kesuburannya, sementara talenta fenomenal Balloteli yang kerap mengejek pemain klub lain itu kini malah mandek lantaran kerap bermasalah dengan dirinya sendiri dan justru seolah jadi sosok bahan ejekan. Belum lagi kalau menghitung kemungkinan mudiknya Tevez yang kian mendekati kenyataan.

Kondisi tersebut tentu semua klub sudah mafhum, tinggal menunggu adakah pemainnya yang dilirik salah satu atau kedua klub tersebut. Kalau sudah begini, naga-naganya jika Chelsea dan City benar mau mengirit, musim sekarang mereka masih akan kesulitan memenuhi maksud yang sebetulnya mulia tersebut. Sementara mereka juga harus berhati-hati jangan sampai strategi pasifnya malah jadi bumerang. Menunggu sampai waktu jendela transfer menipis berisiko terjepit di kusen, alias malah memicu kenaikan harga. Risiko lainnya adalah kehabisan stok pemain incaran lantaran sudah dibungkus para pesaingnya.

Pendek kata kedua bos ini harus bilang pada diri sendiri; waspadalah, waspadalah!

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar