Pekan Oleh-oleh

Pekan-pekan belakangan ini saya kebanjiran oleh-oleh. Demikian banyaknya, misal kumpulan oleh-oleh itu ditumpuk jadi satu, lutut saya bakal gemetaran mengangkatnya. Banyaknya oleh-oleh ini terkait dengan teman-teman saya yang belakangan ini rajin berpergian. Pertama adalah serombongan kecil yang bertandang ke Jogja.


Sejak awal saya memang berpesan ke Bana, kolega sekos saya yang kebetulan ikut rombongan, untuk membawa oleh-oleh yang banyak. Begitu kepinginnya saya, sehingga ketika Bana, yang tak sempat pulang ke kos, pamit ke Jogja melalui sms, saya ingatkan juga.

“Bang, aku pamit ya. Mohon didoaken biar selamat :)),” demikian sms Bana.
“Semoga pulang membekal oleh-oleh yang banyak,” balas saya.
“Kok doanya malah oleh-oleh? :)”
“Kalau pulang dengan oleh-oleh, sudah barang tentu selamat. Kalau oleh-olehnya banyak sudah barang tentu sentosa.”
“Asem! Iya deh :).”

Sayangnya keinginan Bana membuat saya terkesan, karena menjadi satu-satunya orang yang menyediakan oleh-oleh buat saya, serta-merta gagal. Adelia, pacar seorang teman saya, yang secara terpisah juga berangkat ke Jogja, pulang sehari lebih cepat ketimbang Bana. Diserahkannya pembatas buku, kaus, pemantik api, dan sekotak bakpia bermerk “25” buat saya. Maka Bana pun menjadi agak senewen ketika pulang membawa berat barang dan keletihan, langsung melihat sebuah kaus bertulis “Jogjakarta” masih terbungkus plastik di sebelah saya yang menggeletak pulas.

Seperti yang diakuinya sendiri, awalnya dia masih meragukan ke-Jogja-an kaus tersebut, tapi demi melihat sekotak bakpia bernomor “25” menemani saya, meski pahit ia tak bisa menyangkal. Mulanya saya tak menyangka ia merasa demikian, tapi belakangan memang diakuinya begitu.

“Asem! Aku pulang tahu-tahu sudah ada kaus “Jogja. Sudah begitu ada kotak bakpia “25”, penjual bakpia terbaik di Jogja, sama dengan tempatku membeli,” demikian Bana.

Tak lama setelah kepulangan rombongan kecil ini, mereka berangkat lagi. Kali ini ke Papua, membawa rombongan yang jauh lebih besar. Mulanya saya hendak ceritakan pula di sini soal tujuan mereka ke sana, tapi setelah dipesan salah seorang peserta rombongan dengan mimik amat serius, serta-merta saya urungkan niat saya yang kelihatan mulia ini.

Sepulangnya rombongan ini dari Papua, selain membawa cerita-cerita seru mereka juga merasa perlu membekali diri dengan ragam oleh-oleh. Mulai kaus, jersey Persipura, koteka, gelang, kalung, panah, hingga handuk yang mereka bawa dari hotel tempat menginap. Saya kedapatan dioleh-olehi dari tiga orang sekaligus, Bana, David dan Candra. Belum habis gelombang dari Papua ini, teman saya Lina Bayun pulang dari Malang membekal sekantong plastik penuh jajanan khas sana.

Tadinya saya pikir pemberian Bana, kalung bermata gigi buaya yang masya Allah runcingnya itu bakal jadi barang paling keren yang bakal saya dapat. Sayang ia lagi-lagi mesti kecewa. Persoalannya sederhana, cuma soal waktu. Kalau di Jogja ia terlalu lama pulang, di Papua ini ia terlalu cepat. Ketika di kos saya terjadi pesta-pora oleh-oleh, mendadak Candra yang masih di Papua mengirim BBM ke salah seorang teman, ditujukan pada saya.

“Bang Makki mau oleh-oleh apa,” demikian BBM-nya
“Apa saja boleh.”
“Maunya kaus atau koteka?”
“Apa saja yang tak ada di sini... Senjata khas Papua, deh.”
“Oke.”

Maka jadilah beberapa hari kemudian sebuah busur panah Papua beserta anak-anaknya melintang terpajang di kos saya. Ini belum termasuk kaus dan sekotak donat yang tidak khas Makassar namun dibeli di sana ketika ia transit. Adapun Bana, meski dua kali merasakan pahitnya kekecewaan seperti menggigit jengkol muda, mungkin juga sekali lagi berucap “asem!”, tapi bagi saya ia tetap memberikan oleh-oleh berharga.

Barangkali tak lama pasca tulisan ini dipublikasi, bakal ada barang seorang dua teman saya yang membantah detil-detil tertentu cerita ini. Tapi percayalah bahwa saya menulis dengan kejujuran yang sungguh-sungguh. Bilamana memang ditemukan hal-hal yang kurang akurat semua itu bermula dari kekhilafan saja. Silakan ucapkan selamat menikmati oleh-oleh kepada saya.

Ciputat, 17 Juni 2011


Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar