Periodisasi dalam Karya Iwan Fals (Bagian 1)


Iwan Fals merupakan satu dari sedikit musikus legendaris Nusantara yang masih aktif dalam berkarya. Meski pada dekade 90-an ia sempat vakum, dalam arti tidak rutin memublikasi lagu-lagu baru, namun dekade selanjutnya sampai kini ia cukup teratur mengeluarkan beberapa album dengan lagu-lagu baru, baik yang ditulisnya sendiri maupun oleh orang lain.

Masa-masa vakum penyanyi kharismatik ini pada dekade 90-an merupakan era yang sangat penting bagi corak karya-karyanya. Kita dapat melihat pergeseran yang mencolok dalam pandangan dunia sang aku lirik dalam lagu-lagu Iwan Fals pra 90-an, dengan pasca 90-an. Berdasar hal tersebut perjalanan karir penyanyi bernama asli Virgiawan Listianto ini menurut saya dapat dibagi menjadi tiga periode. Di sini pembagian periode tersebut diistilahkan sebagai periode Iwan Fals muda, periode kematangan, dan periode Iwan Fals tua.

Periode Iwan Fals muda

Periode ini tentu saja dimulai sejak pertama kali ia menginjakkan kaki dalam dunia musik Nusantara. Kita dapat melacak perjalanan awal karir penyanyi bersuara khas ini yang didominasi lagu-lagu bergenre country. Karakter setiap lagu ditambah ciri khas liriknya membuat ia seringkali diidentikan dengan legendaris internasional, Bob Dylan.

Dalam hal lirik, sejak awal kita sudah melihat ciri “kenakalannya” pada lagu-lagu bernuansa kritik, baik yang bersifat sosial maupun politik,  yang seringkali dibalut dengan humor dan metafora-metafora yang cerdas. Judul-judul seperti Serdadu, Barang Antik, Obat Awet Muda (OAM), Guru Oemar Bakri, dan Tikus-tikus Kantor merupakan beberapa contoh lagu yang memamerkan kejeniusan penyanyi ini menggabungkan semua unsur yang disebut di atas.

Selain itu Iwan Fals juga menulis banyak lagu bertema cinta yang berlirik sangat kuat. Tercatat lagu-lagu bertema cinta yang mampu menjadi hits, di antaranya; Jendela Kelas Dua, Kereta tiba Pukul Berapa, dan tentu saja Buku ini Aku Pinjam, merupakan beberapa judul yang memerlihatkan kompleksitas kemampuan Iwan Fals pada kekuatan lirik di berbagai tema.

Realisme dalam lirik-lirik lagu Iwan Fals kala itu sulit dicari tandingannya sampai saat ini. Pengibaratan-pengibaratan seperti “tikus-tikus kantor”, “mata indah bola pingpong”, “buku ini aku pinjam”, “bila engkau berjalan rembulan pun padam” merupakan istilah yang kualitasnya tak terjangkau oleh musikus-musikus, bahkan banyak sastrawan saat ini. Sebagaimana puisi-puisi Chairil Anwar, beberapa metafora ala Iwan Fals ini bahkan menjadi istilah yang banyak dipakai orang dalam bahasa sehari-hari.

Secara pribadi saya menyejajarkan kualitas dan pencapaian prestasi musikus yang mahir memainkan harmonika ini dengan kualitas karya-karya sastrawan Amerika peraih Nobel, John Steinbeck yang berciri realis, penuh humor, dan mampu mengolah setiap untaian kata menjadi metafora yang brilian dan berbinar-binar.

Periode kematangan

Periode ini diwarnai dengan nuansa gelap dalam lagu-lagu Iwan Fals. Watak kritis yang telah terlihat sejak awal kini menjadi sebuah ideologi dan membuatnya lebih serius dalam membahas berbagai permasalahan dalam lagu-lagunya. Periode ini berlangsung di sekitar akhir dekade 80-an.

Sejak awal ia memang banyak memotret kehidupan kaum pinggiran, yakni orang-orang miskin, orang-orang kelaparan, korban bencana, gelandangan, preman, sampai pelacur. Namun jika pada awal karirnya ia lebih banyak menyajikan satir yang menawar kepedihan orang-orang kecil dengan taburan humor, pada era ini ia betul-betul menghantam pendengarnya dengan realitas kepedihan yang mengagetkan.

Pada lagu-lagu Semoga Kau Benar, Gali Gongli, Puing, Perempuan Malam, Doa Pengobral Dosa, Azan Subuh masih di Telinga, dan semacamnya, kita betul-betul diperkenalkan dengan penderitaan tanpa tedeng aling-aling. Teman saya mengatakan bahwa syair yang berbunyi; perempuan malam mandi di kali/ buih-buih sampo ketengan/ di atas kepala lewat kereta…(Perempuan Malam), membuat kita paham rasanya sebuah penderitaan tanpa sekalipun menyebut kata tersebut.

Jika di atas saya menyamakan ia dengan John Steinbeck, kali ini ia seperti Steinbeck yang menulis The Grap of Warth, karyanya yang agak keluar dari pakem gaya menulisnya, karena lebih terasa murung, sarat kritik, lebih filosofis namun tak kehilangan kekuatan.

Kematangan Iwan Fals di periode ini diafirmasi dengan terbentuknya Swami, grup musik rock yang terdiri dari musikus-musikus kawakan. Grup ini menelurkan hits seperti Kebaya Merah, Mata Dewa, Bento, Bongkar, Kuda Lumping dan seterusnya. Namun mereka bertahan tak cukup lama untuk betul-betul melegenda.

Di era ini Iwan Fals juga sempat melahirkan lagu-lagu bertema cinta yang tak kalah hebat dari sebelumnya. Kemesraan merupakan ‘lagu abadi” yang kerap dinyanyikan hingga kini. Selain itu Aku Antarkan, Kumenanti Seorang Kekasih, Kembang Pete, 22 Januari, Entah, Ikrar, Pesawat Tempur, adalah lagu-lagu cinta yang kekuatan syairnya jauh melampaui kualitas syair-syair semacam karya musikus era ini. Jangan lupakan juga Ibu yang konon pernah disebut oleh cendikiawan Haidar Baghir sebagai “wahyu Tuhan yang tercecer”.

Bersambung

(pernah dipublikasi di http://kacajendela.wordpress.com pada Pebruari 2009)

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar