Tentang Lupa dan The Unbearable Lightness of Being-nya Milan Kundera


Maaf buat para pembaca yang kebetulan mampir di halaman ini karena ingin membaca bahasan mengenai Milan Kundera atau resensi novel fenomenalnya The Unbearable Lightness of Being, karena saya tak sedang menulis itu. Ini hanya catatan pribadi pengalaman saya yang berhubungan dengannya.

Beberapa minggu lalu saya merasa berbinar-binar waktu Agus Noorbani, kawan saya, mendadak memberikan novel yang selama beberapa bulan belakangan saya buru, The Unbearable Lightness of Being, karya paling agung dari Milan Kundera. Saya kaget (dan agak tersinggung, hehe) karena Agus memberikannya seperti ia membagi sebungkus kacang goreng. Karya sebesar ini menurut saya pantas diperlakukan lebih khidmat. Tapi baiklah, saya lebih memilih untuk mengingat bagian senangnya saja.

Setelah beberapa hari baru ada kesempatan untuk membacanya, saya melahapnya rakus, seperti orang yang menghabiskan sisa makanan cepat-cepat sebelum dipergoki sedang tidak puasa. Kompleks dan liku-liku ceritanya saya nikmati diam-diam, seolah tak ingin berbagi dengan sesiapa.

Seperti deja vu, saya seakan bisa mereka-reka kisruh-bahagia kehidupan Tereza, Tomas dan, tentu saja, Karenin. Sembari membaca saya bertanya-tanya, di mana saya membaca resensinya atau sinopsis novel ini? Memang saya pernah menonton film adaptasinya, tapi saya pikir bukan dari sana saya akrab dengan jalan ceritanya.

Novel berukuran kecil itu terlipat di ujung-ujungnya karena saya membawa ke mana-mana. Walhasil, lembar-lembar yang tadinya telah keriting karena terlihat bekas terguyur cairan, menjadi tambah lusuh. Tapi dalam titik tertentu memang tak ada yang lebih membanggakan ketimbang memiliki sebuah buku lusuh yang telah kita hafal isinya.

Akhirnya kemarin sore saya saya bertemu lagi dengan Agus Noorbani, dan menyelipkan beberapa kutipan dalam novel tersebut di tengah-tengah pembicaraan kami. Tanpa bermaksud mendapat jawaban, saya mengemukakan pertanyaan saya tentang akrabnya jalan cerita novel ini. Namun ternyata Agus memberikan jawaban: “waktu gua baru beli, kan elu pinjam. Itu bekasnya elu yang numpahin kopi”.

Sungguh saya kaget sampai hari ini. Setan mana yang membuat saya melupakan salah satu novel Milan Kundera? Para pembaca karya-karya penulis asal Ceko ini mestilah tahu bahwa hampir di setiap halaman novel-novelnya Kundera begitu rajin mengisinya dengan kalimat-kalimat puitis nan jenius yang cocok untuk dikutip, paling tidak untuk sedikit bergaya snobis. Saya sendiri seringkali mencatat atau menandai kalimat-kalimat hebatnya, paling tidak dalam ingatan. Lah, sekarang saya malah lupa kalau pernah membaca novel ini.

Nampaknya saya mesti bikin catatan semacam The Book of Laughter and Forgetting. Biar momen-momen lupa jadi terkesan lebih filosofis. Paling tidak buat menutupi malu saya gara-gara kekonyoloan ini.

Hmmm. bisa jadi ini teguran kecil dari buku-buku saya yang kini jarang saya ajak ngobrol sampai terlantar berdebu. Bisa dibayangkan teguran kecil saja sudah membuat saya amnesia seperti ini. Semoga selanjutnya kesalahan seperti ini tidak terjadi lagi.

(pernah dipublikasi di Facebook pada September 2009)

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar