Buku Bekas dan Kebiadaban

Sekitar dua minggu lalu, gara-gara membincang perihal esai-esai Mahbub Djunaidi, hari itu juga saya putuskan bakal ke Taman Ismail Marzuki (TIM) bersama Abdullah Alawi, kerap dipanggil Abah, buat “mengobrak-abrik” toko buku Jose Rizal Manua, demi mencari karya mantan ketua PWI ini. Dengan catatan, pasca saya memasak dan makan. Kebetulan sekali saat itu kerjaan dapur saya dalam tahap hampir beres.


Tapi yang lebih kebetulan adalah kedatangan temannya Abah saat itu –kita sebut saja dia “Z”, di menit-menit injury time waktu memasak, disambut nasi, tempe goreng dan tumisan kangkung, juga ada kerupuk dan sambal goreng. Semua dalam status masih aktual. Makanlah kami dengan kelahapan yang tak usah diceritakan di sini, khawatir menimbulkan akibat-akibat tak diinginkan.

Antusiasme tinggi terhadap Mahbub Djunaidi membuat kami terus membicarakan almarhum selama makan. Abah terus-terusan ketawa lantaran kosa-kata “kapiran” yang dikoleksi orang Betawi, suku asal saya dan –tiada maksud sombong- kebetulan juga Mahbub. Perasaan saya terus digemparkan humor-humor salah satu deklarator PMII tersebut, yang membuat esai-esai pendeknya perlu waktu lebih lama untuk dilahap, soalnya sering diselingi cekikikan atau cekakakan saya.

Rasanya sia-sia mencari buku-buku Mahbub di gerai-gerai buku konvensional. Konvensional di sini kurang lebihnya berarti menjual buku baru, baik terbungkus ketatnya plastik atau tidak. Makanya kami memusatkan perhatian di beberapa tempat penjual buku-buku bekas di berbagai tempat. Atas berbagai alasan, di antaranya demi ketentraman hidup aktivis-aktivis Ciputat, agaknya tak etis saya beberkan di mana saja lokasinya.

Di tengah kami asyik makan dan ngobrol soal-soal di atas, Z berceletuk soal sebuah toko buku bekas yang belum pernah kami ketahui keberadaannya. Kurang ajarnya, lokasinya tiada seberapa jauh dari Ciputat. Karuan saja saya merasa dikangkangi nasib karena baru tahu sekarang. Sambil menyuap nasi saya berpikir diam-diam, ada gunanya juga orang ini dikasih makan. Serta merta saya dan Abah menyudahi acara makan dengan lebih giat. Berangkatlah kami ke sana berdua. Z yang memberi informasi malah tak ikut.

Koleksi toko ini memang tak sebanyak dan sebagus tempat-tempat langganan kami lainnya, tapi harganya relatif lebih murah. Abah menemukan buku tentang dokumen-dokumen Nahdlatul Ulama dan “Omong-omong” karya HB. Jassin, membuat saya serta-merta merutuk “sial!”. Beberapa jam kami habiskan di sini. Tak terkira debu-debu yang menempel di tangan dan bagian tubuh kami lainnya. Tapi yang namanya mencari buku memang kegiatan yang tiada bakal ketemu titik puasnya, meskipun telah didapatkan segerobak buku pilihan. Lantaran rengekan Abah yang minta pulanglah saya baru sadar matahari sudah sudah miring, hampir jatuh di barat karena kelelahan.

Satu hal yang sudah saya rencanakan kuat-kuat dalam hati; informasi soal toko buku ini, paling tidak untuk sementara waktu yang belum bisa dikira-kira, mestilah disembunyikan dari semua kawan saya di Ciputat, bagaimanapun macam dan rupanya. Bukan apa-apa, beberapa buku bagus yang belum terjangkau anggaran saya mestilah diamankan lebih dulu sebelum digasak kawan-kawan.

Saat pulang kami berpisah jalan. Tak lama sebutir pesan masuk ke ponsel saya. Lain dikira lain yang tiba. Tadinya saya berpikir Abah pengirim pesan. Di saat macam begini dia memang suka punya ide aneh buat mengirim sms yang isinya kerap bikin kita blingsatan memikirkan. Pesan tersebut dikirim Abi, kawan saya yang kerap digosipkan sebagai pasangan hidup sejati Abah. Isinya kontan membuat saya kaget, lantaran belum juga pulang namun aktivitas saya sudah diketahui orang.

“Bung, borong buku kok ga bilang-bilang? Biadab!” Demikian sms Abi.
“Maaf, gua memang biadab,” balas saya.

Tanpa minta izin langsung saya curigai Abah selaku pembocor rahasia ini. Tapi lewat kejadian ini saya kembali ingat, di Ciputat, tak ada gerakan barang seinci yang tak terendus rekan-rekan.

Wassalam.
Ciputat, 20 Juli 2011


Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar