Harga Tinggi Pasaran Inggris

Ada masanya ketika Arsene Wenger kelihatan ogah memakai pemain-pemain Inggris di tim utama Arsenal. Pernah terjadi dalam sebuah laga, Arsenal tak mengajak seorang pun pemain berdarah Inggris, baik sebagai starter atau sekadar celingukan di bangku cadangan. Padahal sudah menjadi kebiasaan Wenger memberi pemain-pemain muda kesempatan bermain. Tapi apa boleh dikata, pemain-pemain muda yang didapat pelatih asal Prancis ini pun didominasi keturunan non-Inggris. Hal ini sempat dibahas habis-habisan pers Inggris yang berisik itu.


Kritik hampir sama pun pernah mampir ke jidat Rafael Benitez ketika masih menukangi Liverpool. Ia dikatakan lebih suka membeli pemain asal kampung halamannya, Spanyol, ketimbang pemain Inggris. Meskipun masih punya dua pemain utama asal Inggris, memang jarang ada cerita Benitez mau memerkuat timnya dengan pemain Inggris. Ketika oleh pers hal demikian ditanyakan pada yang bersangkutan, ia menjawab blak-blakan, “pemain Inggris? Harganya itulah, masya Allah mahalnya!”

Inggris yang diklaim sebagai nenek moyang sepakbola modern ini memang kerap mencak-mencak saban berakhirnya kompetisi internasional. Meski menyandang status senior sepakbola, tergolong tim elit pula, seumur-umur mereka baru berhasil menjuarai Piala Dunia 1966 dan sebuah turnamen tak resmi, Turnoi de France, tahun 1997. Faktor yang sering menjadi kambing hitam kegagalan mereka adalah enggannya klub-klub Inggris memakai jasa pemain dari negeri sendiri. Jawaban Benitez di atas, yang rasanya seragam dengan isi kepala Wenger, sepertinya bisa jadi dalih ramainya tren impor pemain di negeri ini.

Apakah penilaian Benitez tentang harga pasaran pemain Inggris cukup adil? Saat itu dia memungut contoh pembelian Theo Walcott oleh Arsenal. Pemain yang bisa dibilang bau kencur pun belum ini, memang ditebus Arsenal dengan harga yang bisa sampai 12,5 juta pound. Benitez mengatakan, dengan harga itu kita bisa mendapatkan pemain jadi yang lebih bagus di seluruh dataran Eropa, kecuali Inggris.

Contoh sensasional terakhir adalah alih kepemilikan Andy Carroll dari Newcastle United ke Liverpool di jendela transfer Januari 2011 lalu, yang membuat pemain ini bolehlah dikasih stiker bertulis “pemain Inggris termahal dalam sejarah”. Tak tanggung-tanggung kala itu Newcastle ketiban duit 35 juta pound gara-gara pembelian ini. Kita hanya bisa mendoakan duit demikian banyak tidak dalam bentuk logam.

Perilaku jor-joran Liverpool ini memang bisa dipahami karena kepanikan mereka lantaran baru saja ditinggal penyerang Spanyol Fernando Torres yang mendapat gaji lebih tinggi di Chelsea. Namun kritik tetap menggelinding soal kepantasan pemain depan jangkung ini dihargai sebegitu mahal. Apalagi ia belum lagi genap semusim menunjukkan kemonceran permainan di Liga Primer Inggris. Kebetulan pada waktu hampir sama Liverpool juga sukses mendapatkan sertifikat kepemilikan bomber asal Uruguay, Luis Suarez, setelah pemiliknya, Ajax, tak tega menolak duit sebesar 26,5 juta pound.

Suarez sudah umum diketahui orang sejak lama soal kebiasannya membikin kegegeran di gawang lawan, baik di tingkat klub maupun timnas. Pokoknya semua predikat yang dimiliki pemain ini lebih menjanjikan ketimbang Andy Carroll. Lalu darimana asal-usulnya kelebihan harga Carroll yang hampir 10 juta pound dari Suarez itu? Padahal Liverpool memburu kedua pemain ini dengan sikap yang sama; butuh cepat, berani bayar mahal.

Contoh lain bisa dilihat di bursa transfer pertengahan 2011 ini. Beberapa pemain Inggris sudah pindah klub dengan harga yang bikin mulut kita menganga. Coba saudara kira-kira kepantasan harga sebesar 12 juta pound yang dibayar Sunderland buat mendatangkan Connor Wickham yang umurnya baru 18 dan statusnya baru pemain berbakat. Jumlah ini, sebagaimana Inter musim lalu, sudah cukup buat membeli pemain Italia Giampaolo Pazzini yang jauh lebih teruji di berbagai level. Itu pun masih ada surplus buat zakat atawa sedekah, paling kurang buat mentraktir teman seisi kampus sampai perutnya melintir.

Transfer Wickham ini dibarengi dengan kepindahan Jordan Henderson berharga 16 juta pound ke Liverpool dan Phil Jones ke Manchester United dengan harga 16,5 juta pound. Kalau kita ukur kepantasannya, mengingat catatan konsisten selama lebih dari 5 tahun, taruhlah harga 17 Juta pound yang dibayar Manchester United buat membeli Ashley Young memang sudah pas. Tapi bagaimana menjelaskan angka yang sama buat Jordan Henderson dan Phil Jones? Apa memang reputasi dua pemain ini sudah setingkat Young? Musim sebelumnya United juga membeli Chris Smalling dari Fulham sebesar 7 juta pound, padahal jadi pemain inti di Fulham saja dia belum pernah. Untunglah pemain ini menunjukkan permainan bagus musim lalu.

Kombinasi Wickham, Hendersson, Jones dan Smalling ini bisa saudara simak di Piala Eropa di bawah usia 21 sekitar sebulan lalu. Harga mereka bersama kalau ditaksir, paling kurang senilai nyaris 50 juta pound. Rasa-rasanya ini bisa dipakai membeli hampir seisi tim Spanyol U-21 yang jadi jawara di ajang ini. Adapun Inggris masuk semifinal pun tidak.

Biar duduk persoalannya lebih adil, kita mesti menimbang latar belakang kondisi ekonomi negerinya almarhum Lady Diana ini. Negara-negara yang berkomplot dalam Uni Eropa, seperti Inggris, tentulah menerima ajakan buat mengganti mata uangnya menjadi Euro yang kursnya tinggi itu. Namun lantaran kurs Poundsterling lebih mahal, bahkan termahal di dunia, Inggris menjadi satu-satunya negara yang memakai mata uangnya sendiri. Maka wajar kalau standar harga di negeri ini juga lebih tinggi. Hal ini masih ditambah besarnya pajak-pajak yang dibebankan kepada penduduknya. Dalam hitungan tertentu, seseorang bisa dijerat pajak penghasilan sebesar 40%. Namun rasanya hal ini tetap belum menjelaskan perbedaan harga yang jomplang antara Inggris dengan negara lainnya, karena di kasus bisnis lain hal yang sama tak terjadi.

Saya pikir ada perlunya setiap pihak yang terlibat dalam sepakbola Inggris, mulai petinggi FA, pemain, pers, suporter, kalau perlu tukang kacang dan penjual limun yang buka usaha di pinggir-pinggir stadion, menjadikan ini perbicangan publik yang serius. Sebab seperti ada dibilang di awal, klub-klub Inggris saja mesti pikir-pikir banyak dulu sebelum memakai servis pemain sekampungnya, apalagi buat klub lain negeri. Maka bukan hal aneh jika sejak lama jumlah pemain Inggris yang berkantor di luar negeri pun bisa dihitung dengan jari, tanpa melibatkan jari kaki. Bagaimana mau berharap pemainnya beroleh pengalaman beragam yang harganya tak ternilai itu. Jika kondisi demikian tak berubah, rasanya sulit membayangkan Inggris menambah koleksi daftar juara.

Adapun untuk negeri kita, mungkin ada baiknya mengimbau para konglomerat kita yang suka merengek-rengek minta fasilitas negara itu, biar membuka lapak jualan pemain di Inggris. Kelihatannya bisa untung besar. Mendinglah ketimbang main lumpur tak karuan.

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

Tidak ada komentar:

Posting Komentar