Ordinary People: Sampai maut memisahkan…

Salah satu gejala yang terlihat dari perkembangan karya-karya film mutakhir adalah kian leburnya batas-batas antar genre yang dahulu pernah menglasifikasi berbagai film dengan ketat. Bukan hal mengherankan jika saat ini muncul fim action yang memiliki sisi drama yang kuat, kawin silang drama-komedi yang banyak digemari, film bergenre crime yang unsur romance-nya sangat kental, dan seterusnya. Nah, jika ada yang merindukan film drama par-exellence berkualitas, dengan persoalan yang masih terasa kontekstual, tengok Ordinary People yang dianggap "mencuri" anugerah Oscar Best Picture tahun 1980 dari Ragging Bull.

Memang banyak kritikus yang menyayangkan lepasnya anugerah Best Picture pada saat itu dari Ragging Bull, namun bukan berarti Ordinary People bisa dibilang  tanpa taji. Film yang disutradarai aktor kawakan Robert Redford ini menghadirkan pemeran Donald Sutherland, Mary Tyler Moore, Timothy Hutton.

Film ini mengisahkan tentang keluarga kecil yang mengalami bencana, yakni kematian anak tertua mereka. Cerita dimulai dengan gambaran Conrad Jarret (Timothy Hutton), sosok pemuda tampan namun terlihat kaku dan tidak tenang. Ia seperti kehilangan sisi afeksinya ketika berhadapan dengan orang lain, seperti keluarga dan teman-temannya. Belakangan diketahui bahwa hal ini timbul dari rasa penyesalannya terhadap kematian sang kakak yang terjadi di depan matanya.

Adegan demi adegan memberi gambaran kepada penonton bahwa ketiga sosok utama film ini; Ayah (Donald Sutherland), Ibu (Mary Tyler Moore), serta Conrad Jarret adalah tipe keluarga yang terlihat baik-baik di luar namun sebetulnya telah kehilangan kemampuan untuk menjalin komunikasi yang intens di antara mereka.

Film ini dengan sangat baik mengisahkan impotensi komunikasi dengan adegan-adegan yang wajar, padat dan efektif. Pada awalnya kita akan bertanya-tanya, apa yang sebetulnya terjadi dengan orang-orang ini? Jawaban baru kita dapatkan ketika terjadi interaksi antara Conrad dengan psikiaternya. Dan ironisnya, dari sinilah puncak konflik justru muncul, yakni antara Conrad dengan ibunya yang dianggap sudah tak mampu lagi memberikan rasa sayang kepada seisi keluarga sejak kematian anak pertama.

Konflik ini terus membesar dengan terlibatnya sang ayah yang dilanda kebingungan. Pada satu sisi ia mengakui bahwa apa yang dirasakan Conrad memang betul, dan itu pun menimpa dirinya. Namun di sisi lain ia tak bisa sepenuhnya memihak anaknya, demi menyelamatkan keluarga.

Hasilnya, tesis utama film ini mengingatkan saya kepada komedi gelap yang sekilas muncul dalam sebuah dialog film Dead Man Walking, di mana orang tua seorang korban keganasan Mathew Ponchelet bercerai, karena sang istri beranggapan bahwa sumpah perkawinan mereka hanya "sampai maut memisahkan". Dan maut sang anaklah yang memisahkan mereka. Begitulah kira-kira gambaran utama cerita film ini.

Pesan-pesan yang hendak disampaikan dalam film ini terasa sangat subtil. Hal tersebut didukung akting brilian para pemerannya, sehingga penonton cepat menangkap apa yang hendak mereka katakan melalui bahasa tubuhnya. Catatan khusus patut berikan kepada Timothy Hutton yang diganjar Oscar untuk untuk Best Supporting Actor di film ini. Ia mampu menampilkan diri sebagai pemuda canggung dan trauma yang begitu sulit dipahami orang. Hebatnya, inilah debutnya dalam dunia film.

Film ini ditutup dengan sangat puitis. Pasca pertengkaran yang intens antara ayah dan ibu Conrad, sang Ibu yang telah berpakaian rapi menaiki taksi membawa kopornya, sementara sang ayah yang berpakaian tidur memerhatikan dari sisi taksi. Conrad yang melihat dari jendela kamarnya bergegas keluar ketika taksi telah berlalu. Kemudian ia bercakap-cakap dengan ayahnya soal sang ibu. Mereka terus berdua di muka rumah, sementara kamera menjauh dan langit terlihat berwarna fajar.

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar