"Aku Penyelamat Peradaban"


Ditulis oleh: Wahyu Adi Putra
Tanggal: 27 Mei 2011


Jumat pagi, 21 Mei 2011, saya tiba di Gedung Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tujuan saya: mengikuti sebuah pelatihan penggunaan alat-bantu terjemahan yang diadakan oleh Himpunan Penerjemah Indonesia. Di sela rehat pelatihan, saya bertemu dan bercakap-cakap dengan salah seorang relawan Koin Sastra yang sedang istirahat di ‘Tangga Biru’, dekat pintu masuk ke gedung PDS HB Jassin. Dalam percakapan tersebut, setelah berbincang sedikit tentang kemajuan program Koin Sastra, saya memperkenalkan diri sebagai salah satu anggota redaksi MediaSastra.com. Mendengar hal itu, teman bicara saya langsung memberitahu bahwa esok harinya, Sabtu, 22 Mei 2011, pukul 10:00 wib di PDS HB Jassin akan dibuat satu acara bertajuk Kliping Massal. Saya yang semula berencana kembali ke Yogyakarta pada Sabtu pagi pun langsung mengubah jadwal kepulangan saya demi meliput acara ini.

 Sabtu pagi di Taman Ismail Marzuki, saya tiba agak telat. Waktu sudah menunjukkan pukul 10:45 wib. Saya bergegas menuju halaman PDS HB Jassin. Sudah ada tenda terpasang. Satu untuk para hadirin acara, dan satu lagi untuk panggung. Banyak orang sudah di sana. Rata-rata mereka mengenakan kaos dengan tulisan mencolok: “Aku Penyelamat Peradaban”. Saya ketahui kemudian, “Aku Penyelamat Peradaban” adalah judul-sanding dari acara ‘Kliping Massal’ ini. Tidak lama setelah berbaur dengan para hadirin lain, acara ‘Kliping Massal’ pun di mulai. Hujan deras berhawa panas khas kota Jakarta sempat mengiringi berlangsungnya acara ini. Para peserta yang semula tersebar di sekeliling tenda pun berebutan berlindung di bawah tenda hadirin. Sesak memang. Tapi, seperti celetukan salah seorang peserta yang tertangkap telinga saya di antara himpit-himpitan manusia di bawah tenda itu, “Acaranya jadi romantis.”

***

Menurut pengakuan Ahmad Makki, Koordinator Acara ‘Kliping Massal’, yang juga salah seorang penggagas Koin Sastra, acara ini adalah sebuah ajang yang digagas Koin Sastra dan PDS HB Jassin untuk melibatkan lebih banyak lagi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan di PDS HB Jassin.

“Kita melakukan ini (pengklipingan – red.) secara reguler sebetulnya. Dengan, ya, lima sampai sepuluh orang setiap hari. Dari mulai Senin sampai Sabtu kita melakukan itu – dan sudah banyak membantu PDS HB Jassin. Tapi, kita pikir kita perlu memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang,” tukas Ahmad Makki.

Saya melihat orang-orang yang ikut mendaftarkan diri menjadi peserta dalam ajang ini beragam latar-belakangnya. Dari orang dewasa sampai anak seusia sekolah dasar pun tampak bersemangat mencantumkan nama mereka untuk menjadi peserta kliping. Jumlah pesertanya juga terbilang banyak. Menurut Ahmad Makki, sampai tengah hari jumlah peserta kliping sudah menembus angka 190.

Saya ikut rombongan peserta kliping kloter kedua. Pengklipingan memang dilakukan dengan jumlah peserta yang dibagi-bagi dalam beberapa kloter. Tidak mungkin dilakukan sekaligus karena luas ruangan PDS HB Jassin yang terbatas. Peserta kliping kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok; masing-masing kelompok dipandu oleh seorang koordinator, yang bertugas menjelaskan dengan rinci tatacara pengklipingan naskah serta memantau pengklipingan yang dilakukan oleh peserta, yang kebanyakan memang awam dalam bidang pendokumentasian arsip itu. Naskah yang dikliping saat itu adalah artikel-artikel sastra yang dimuat di berbagai mediamassa yang terbit dalam rentang waktu dasawarsa 1990an. Ternyata mengkliping naskah sebagai dokumentasi itu tidak sesederhana yang saya bayangkan: ada beberapa prosedur baku yang harus dijalankan – mulai dari penandaan artikel, pencatatan data artikel yang hendak dikliping, pengguntingan, sampai penempelan. Biar begitu, semua peserta tampak asyik melakukan pekerjaannya.

Di sela-sela kegiatan kliping, Ahmad Makki menjelaskan pada saya bahwa ajang kali ini juga digunakan oleh salah satu penyedia layanan seluler, XL, untuk meluncurkan satu program ‘SMS Donasi’ untuk PDS HB Jassin.

 “Beruntung, saat ini kita dibantu, disponsori oleh XL, kebetulan, karena mereka juga ada program untuk meluncurkan ‘SMS Donasi’ ke PDS HB Jassin. Juga, rencananya ke depan ada program semacam e-book (sastra – red.) yang bisa didownload oleh para penggunanya,” ujar Ahmad Makki.

Ahmad Makki melanjutkan bahwa rencananya ada dua buku elektronik sastra yang nanti dapat diunduh oleh para pengguna layanan seluler itu: Aku ini Binatang Jalang karya Chairil Anwar dan Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia karya HB Jassin.

Selain itu, Koin Sastra, yang selama ini kita kenal lewat media jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter (dengan tagar #koinsastra), telah merencanakan beberapa program yang akan diselenggarakan bagi PDS HB Jassin. Salah satunya adalah program pendigitalan naskah-naskah yang disimpan di PDS HB Jassin. Program ini penting mengingat kondisi gedung PDS HB Jassin yang saat ini terbatas dalam hal ruang dan kapasitas untuk menjaga keawetan naskah koleksinya. Yang membedakan PDS HB Jassin dari banyak perpustakaan lainnya adalah bahwa koleksinya mencakup banyak naskah asli karya beberapa pengarang Indonesia yang masih berupa manuskrip tulisan tangan. Kita dapat menemukan naskah asli tulisan tangan novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang di pusat dokumentasi sastra ini. Juga, beberapa naskah tulisan tangan yang memuat puisi-puisi penyair besar Indonesia seperti Chairil Anwar dan WS Rendra.

Tambah lagi, Koin Sastra juga bercita-cita supaya PDS HB Jassin memiliki sebuah gedung baru. Seperti diungkapkan Ahmad Makki, “Kita juga merencanakan, kalau bisa, PDS HB Jassin harus punya tempat yang baru. Yang lebih layak, jauh lebih layak dari tempat ini, karena ini sudah sangat tidak layak. Kalau masuk ke dalam nanti, (Anda bisa lihat bahwa) sudah tidak ada rak yang bisa dimasukkan lagi karena sudah nggak ada tempat sama sekali.”

Saat saya bertanya tentang pandangan Koin Sastra terhadap sikap pemerintah yang menelantarkan PDS HB Jassin, Ahmad Makki menjawab bahwa Koin Sastra memandang kedua-duanya masyarakat dan pemerintah punya andil dalam nasib yang dialami oleh PDS HB Jassin.

“Kita menolak segala bentuk pembiaran, sikap-sikap yang membiarkan kebudayaan-kebudayaan bangsa punah. Bagi kami (Koin Sastra – red.) tidak hanya PDS HB Jassin, banyak sekali aset-aset kebudayaan yang menjelang kepunahan. Pertama, kami mencatat bahwa sikap pembiaran ini tidak hanya dimiliki oleh pemerintah tapi masyarakat juga punya andil dalam hal ini. Kondisi PDS yang sepi, perpustakaan-perpustakaan lain yang sepi, ya, itu gambaran bahwa masyarakat juga punya andil kesalahan. Tapi, pemerintah kan juga punya tanggung jawab untuk membuat warganya merasa butuh sama buku, warganya cinta sama sastra,” tegas Ahmad Makki.

Sebab Koin Sastra menganggap bahwa PDS HB Jassin bukanlah satu-satunya aset kebudayaan yang menghadapi masalah, maka Koin Sastra juga menargetkan kegiatannya pada badan-badan kepustakaan lain yang berada di ambang mati-lemasnya

“Program ini insyaallah bukan program yang terakhir buat PDS HB Jassin dan insyaallah juga PDS bukan tempat terakhir yang akan kita dukung. Makanya, kita minta support dari masyarakat sebesar-besarnya,” simpul Ahmad Makki.

***

Sembari kegiatan pengklipingan berlangsung di dalam gedung, di halaman PDS HB Jassin isian acara-acara lain tetap berlanjut. Ada beberapa pertunjukan yang dapat dinikmati oleh para peserta yang sedang menunggu giliran mengkliping. Di antaranya, ada musikalisasi cerpen yang dibawakan oleh Djenar Mahesa Ayu, ditemani mantan vokalis grup musik “Drive”, Erdian Aji. Tampil juga Nanang Hape, seorang dalang dari Ponorogo, yang membawakan beberapa lagu bersama grup musiknya. Seperti lazimnya sebuah acara apresiasi sastra, ada juga pembacaan atau pendeklamasian puisi. Salah satu sastrawan yang tampil ke panggung adalah Sitok Srengege yang mendeklamasikan dua buah puisi dalam acara ini.

Beberapa orang lain yang kerap kita dengar namanya dalam dunia sastra Indonesia juga turut hadir. Di antara mereka yang saya kenali wajahnya, tampak Putu Fajar Arcana, Goenawan Mohamad, Nirwan Dewanto, Djenar Mahesa Ayu, dan Sitok Srengenge.

Kehadiran orang-orang sastra Indonesia dalam sebuah acara sastra Indonesia adalah sebuah kewajaran, dan bisa dibilang tidak istimewa. Namun acara Kliping Massal menjadi istimewa karena para pesertanya tidak datang dari satu ragam latar-belakang saja. Saya melihat seorang gadis cilik seusia SD dan para remaja SMA duduk berdamping-dampingan dengan orang-orang tua yang sudah putih rambutnya sambil tekun menggunting dan menempel naskah. Pemandangan ini membuat Kliping Massal di PDS HB Jassin pantas menyandang gelar ‘massal’; bukan cuma karena jumlah pesertanya yang ratusan tapi karena latar-belakang pesertanya yang beragam.

Kata aku dalam frasa “Aku Penyelamat Peradaban” yang menjadi judul-sanding acara ini jadi begitu bermakna bagi saya. Kata aku, meski dalam dirinya membawa makna ‘satu orang’, bila dilekatkan dalam diri orang banyak, akan membentuk suatu entitas masyarakat yang punya satu saujana: kesadaran bahwa sastra punya andil besar dalam suatu peradaban manusia. Kata aku inilah yang nanti akan menjadi kami; lalu, bila di dalam perjalanannya dihidupi oleh semua orang, tidak lagi mencipta mereka, tetapi kita. Sastra kita cintai karena ia kita lakukan dan kita hidupi.

Sumber: http://mediasastra.com/berita/27/05/2011/aku_penyelamat_peradaban


Melanggan artikel lewat email

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar