Hujan dan Sepotong Roti di Warung Kopi
Malam adalah beberapa waktu di warung kopi, adalah
jerit radio yang serak melawan tetes hujan terserak
atau ia lupa meletakkan gelombang
dengan tepat?
sejenak ingat korban mutilasi
di televisi. Seperti kisah si Pitung –entah
bagian mana terkubur di Marunda?
lalu saya gugup menyuap potongan roti
gugur hujan ini seperti upacara
tahlil tahun lalu; paduan suara
untuk cerita yang menghabisi nyawa kita
semoga masih ada isak yang tersisa
di sini,
malam adalah jerit radio yang serak
entah gelombang suara yang
tak akurat, atau rintik hujan yang terserak.
Ciputat, 20 Februari 2005
Melanggan artikel lewat email
Catatan
"Saya mengingat orang-orang bermimpi tentang Indonesia yang bakalan jadi bangsa besar. Tapi ketika di tempat lain orang berbicara soal ilmu pengetahuan dan peradaban, kita masih angkat pentungan."
Melanggan artikel lewat email
Melanggan artikel lewat email
Saat Kiper Terlibat Dalam Permainan (Kolom di angkringanwarta.com)
Leigh Richmond Roose bikin keki banyak orang. Kiper Sunderland ini kerap maju ke tengah lapangan sambil menenteng bola, lalu mengoper ke temannya. Bukan lantaran Roose tak paham sepakbola. Tapi saat itu, awal dekade 1910-an, belum ada aturan melarang kiper memegang bola di luar kotak penalti. Banyak kiper lain mondar-mandir ke luar kotak penalti sembari memegang bola, tapi tak ada yang serajin Roose sampai ke garis tengah.
Baca selengkapnya >>
Melanggan artikel lewat email
Baca selengkapnya >>
Melanggan artikel lewat email
Riwayat Para Kawan Bicara
Sehabis kecelakaan pesawat yang mengerikan, Chuck Noland terdampar di pulau tanpa penghuni. Seperti manusia prasejarah, segala sesuatu dilakukan serba sulit. Ia menombak ikan-ikan di pantai saat perutnya mulai menyanyi keroncong. Digesek-gesekkan batu dan ranting demi menyalakan api. Saat istirahat ia masuk ke gua, berteduh dari cuaca. Namun yang barangkali paling berat buatnya justru kesepian. Makanya sebuah bola voli yang digambar wajah dengan darahnya dijadikan kawan bicara. Ini semata-mata demi pikirannya terhindar dari kesintingan yang bisa saja tahu-tahu menyergap. Cerita ini bisa ditonton di film terkenal, Cast Away.
Win-win Solution di Spanyol?
Dalam pandangan saya, tak ada lagi yang bisa diharapkan Jose Mourinho dari laga El Clasico selanjutnya. Paling tidak tahun ini. Beragam taktik dijajal pelatih asal Portugal ini buat menjegal anak-anak asuh Pep Guardiola, hasilnya hampir semua memble. Ini pun sudah ditambah insentif permainan kasar para punggawa Los Galacticos. Dalam tiga pertemuan terakhir Madrid versus Barca, skemanya selalu sama. Madrid menginjak gas duluan, lalu Barca segera beradaptasi dengan strategi Mou. Hasil akhirnya memang bervariasi, namun tak satu pun merugikan kubu Barca.
Kata-kata Haji Mahbub
1 Oktober 1995, H Mahbub Djunaidi mengembuskan nafas terakhir. Enam belas tahun Mahbub meninggalkan kita, batang hidungnya tak akan pernah muncul kembali. Tapi kata-katanya masih hidup. Siapa yang hendak belajar bahasa? Mahbub salah satu rujukannya.
BAGI saya H. Mahbub Djunaidi adalah jawaranya esais. Misal ada kategori lima orang esais terbaik dalam sejarah Indonesia, saya ngotot menominasikannya sebagai salah satu. Kalau definisi mutakhir teks mengatakan sia-sia membuat pembedaan antara gaya dengan isi tulisan, Mahbub adalah contoh sempurna.
Koin Sastra untuk HB Jassin Baru Terkumpul Rp200 juta
Penulis : Vini Mariyane RosyaMinggu, 22 Mei 2011 20:17 WIB
JAKARTA--MICOM: Meski telah berselang hampir 3 bulan berjalan, gerakan koin sastra untuk Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin baru mengumpulkan dana sebesar Rp200 juta.
Jumlah tersebut sangat jauh dari kebutuhan PDS HB Jassin yakni Rp1 miliar per tahun.
"Kalau direkapitulasi jumlah dana yang sudah terkumpal baru mendekati Rp200 juta. Tapi itu belum termasuk sejumlah PC ada sekitar 7-8 PC, beberapa TV dan AC," ungkap salah satu penggagas koin sastra, Ahmad Makki di sela-sela acara kliping sastra massal di Taman Ismail Marzuki, Minggu (22/5).
"Aku Penyelamat Peradaban"
Ditulis oleh: Wahyu Adi Putra
Tanggal: 27 Mei 2011
Jumat pagi, 21 Mei 2011, saya tiba di Gedung Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tujuan saya: mengikuti sebuah pelatihan penggunaan alat-bantu terjemahan yang diadakan oleh Himpunan Penerjemah Indonesia. Di sela rehat pelatihan, saya bertemu dan bercakap-cakap dengan salah seorang relawan Koin Sastra yang sedang istirahat di ‘Tangga Biru’, dekat pintu masuk ke gedung PDS HB Jassin. Dalam percakapan tersebut, setelah berbincang sedikit tentang kemajuan program Koin Sastra, saya memperkenalkan diri sebagai salah satu anggota redaksi MediaSastra.com. Mendengar hal itu, teman bicara saya langsung memberitahu bahwa esok harinya, Sabtu, 22 Mei 2011, pukul 10:00 wib di PDS HB Jassin akan dibuat satu acara bertajuk Kliping Massal. Saya yang semula berencana kembali ke Yogyakarta pada Sabtu pagi pun langsung mengubah jadwal kepulangan saya demi meliput acara ini.
Mengingat Sang Pendekar Pena Mahbub Djunaidi
29/07/2011 14:05
Jakarta, NU Online
Gabungan forum study mahasisawa Ciputat mengadakan diskusi tentang Pendekar Pena Mahbub Djunidi pada Kamis, (27/07). Acara berlangsung di Asrama Putri PMII Cabang Ciputat pada pukul 19.30 sampai 23.30. Dimulai dengan tahlilan. Kemudian meniup lilin sebagai hari ulang tahun Mahbub Djunaidi yang ke 78 oleh Profesor Chotibul Umam, sahabat Mahbub sewaktu di PB PMII dan surat kabar Duta Masyarakat.
Pekan Oleh-oleh
Pekan-pekan belakangan ini saya kebanjiran oleh-oleh. Demikian banyaknya, misal kumpulan oleh-oleh itu ditumpuk jadi satu, lutut saya bakal gemetaran mengangkatnya. Banyaknya oleh-oleh ini terkait dengan teman-teman saya yang belakangan ini rajin berpergian. Pertama adalah serombongan kecil yang bertandang ke Jogja.
Buku Bekas dan Kebiadaban
Sekitar dua minggu lalu, gara-gara membincang perihal esai-esai Mahbub Djunaidi, hari itu juga saya putuskan bakal ke Taman Ismail Marzuki (TIM) bersama Abdullah Alawi, kerap dipanggil Abah, buat “mengobrak-abrik” toko buku Jose Rizal Manua, demi mencari karya mantan ketua PWI ini. Dengan catatan, pasca saya memasak dan makan. Kebetulan sekali saat itu kerjaan dapur saya dalam tahap hampir beres.
Harga Tinggi Pasaran Inggris
Ada masanya ketika Arsene Wenger kelihatan ogah memakai pemain-pemain Inggris di tim utama Arsenal. Pernah terjadi dalam sebuah laga, Arsenal tak mengajak seorang pun pemain berdarah Inggris, baik sebagai starter atau sekadar celingukan di bangku cadangan. Padahal sudah menjadi kebiasaan Wenger memberi pemain-pemain muda kesempatan bermain. Tapi apa boleh dikata, pemain-pemain muda yang didapat pelatih asal Prancis ini pun didominasi keturunan non-Inggris. Hal ini sempat dibahas habis-habisan pers Inggris yang berisik itu.
Para Perusak Harga
Memang tidak pernah ada batasan jelas berapa pemain sepakbola mesti dihargai jika ada klub lain berniat membelinya, namun selama ini terjadi semacam kesepakatan tak tertulis sekaligus landasan etika bagi tiap klub untuk menawar atau menghargai pemain berdasar kualitasnya di atas lapangan. Meski ada perbedaan di antara tiap kasus transfer, tapi selalu ada ancar-ancar harga untuk tiap tingkat kualitas. Kalaupun meleset, nilainya tak jauh-jauh amat. Bila ada persaingan, paling-paling hal itu sebatas pada besaran gaji serta fasilitas yang ditawarkan klub-klub peminat. Hal ini berjalan terus dan berevolusi seiring berjalannya waktu. Namun belakangan, oleh sebab-sebab tertentu, kesepakatan tersebut terusik hingga kian kabur batasannya. Bagaimana hal ini terjadi? Begini ceritanya:
Apakah Chelsea dan Manchester City Sudah Belajar?
Kalau melihat tradisi di musim yang sudah-sudah, Chelsea dan Manchester City kerap jadi fenomena di kontes jual-beli pemain saban periode transfer. Paling tidak sejak “kenaikan status ekonomi” mereka, klub-klub besar tradisional tak lagi bisa sekadar mengandalkan reputasinya yang menjulang buat membidik pemain. Manuver mereka yang bertumpu pada kekuatan modal bahkan bisa membuat lutut para juru transfer klub sekelas Real Madrid gemetaran melawan sihir kibasan bergepok duit. Dan pada periode pra musim seperti sekarang inilah biasanya klub-klub ini menyenangkan para wartawan dan bos media, lantaran sering membuat kisah transfer sensasional yang cocok dipajang besar-besar di medianya.
Kesederhanaan dan Contoh
Seorang tokoh besar negeri ini bercerita, pernah beberapa tokoh politik kesohor tingkat nasional era 50-an, yang berasal dari berbagai golongan berkumpul demi membahas sebuah soal. Beberapa di antara yang datang tersebutlah dedengkot NU kala itu, K.H. Wahid Hasyim, serta I.J. Kasimo, pentolan Partai Katolik. Dapatlah kiranya kita raba betapa penting duduk persoalannya jika mereka sudah kumpul bersama begini. Memang perkara yang dibahas bukanlah urusan politik semacam koalisi, bagi-bagi kekuasaan, atau barangkali sekadar berdamai dan berkelakar setelah habis berdebat di ruang-ruang resmi, melainkan soal pembangunan sebuah rumah.
Melakukan tugas mengkliping di PDS HB Jassin, selaku relawan #KoinSastra, menjadi aktivitas yang paling banyak menyita waktu saya sejak dua bulan terakhir. Selama itu tentu banyak catatan yang terekam di ingatan saya. Bersama relawan lain, umumnya saya menghabiskan durasi "jam kerja" kami, mulai 12.00-17.00 WIB, dengan ceria. Ada orang-orang lama yang tetap konsisten bertahan, datang juga orang-orang baru yang tak kalah giat.


